[TIPS] How to prepare your wedding day

Assalamualaikum wr wb.

Karena banyak teman yang akhir-akhir ini mau menikah, ga sedikit dari mereka yang bertanya-tanya ke saya tentang persiapan pernikahan, termasuk vendor pernikahan seperti dekorasi, katering dan perias.

At one point, saya menyadari ternyata banyak dari teman-teman saya ini yang bingung harus mulai dari mana saat mereka dihadapkan pada persiapan pernikahan. Apalagi kebanyakan dari mereka adalah pihak CPWnya, dimana pasti menjadi pihak yang lebih ‘ribet’ dalam proses persiapan.

Waktu persiapan pernikahan tiap orang berbeda. Ada yg 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, atau bahkan bisa 2 tahun atau bertahun2 x_x. Kalau yang idealnya sih antara 3 bulan-6 bulan. Nggak terlalu cepat dan nggak terlalu lama. Kalau saya termasuk yang agak lama, hampir 7 bulan jeda antara lamaran dengan pernikahan. Sebenernya hal ini nggak terlalu baik, seperti yang Rasul sunnahkan, jangan terlalu lama jeda antara khitbah dengan akad, untuk menjauhi fitnah sih sebenernya (kalau bahasa kita, menghindari berantem-berantemnya haha). tapi ya lagi-lagi, itu semua kembali ke individual dan kondisi masing-masing.

So, di post ini saya akan coba untuk memberikan tips2 yang insyaa Allah berguna bagi semua calon pengantin yang baca blog saya 😀 here we goooo..

How to start your wedding preparation :

1. Set the date!

Seperti judul post saya yang sebelumnya, tanggal pernikahan menurut saya adalah hal pertama yang harus ditentukan, karena akan berimplikasi pada penentuan vendor lainnya. Untuk menentukan tanggal, tradisi orang Indonesia adalah dengan berembuk dengan 2 keluarga. Ga mesti keluarga besar, tapi cukup dengan orang tua dan saudara kandung (biasanya sih saudara kandung cmn dengerin aja haha). Ada yang nentuin tanggal pernikahan dengan cara weton Jawa, ada yang berdasarkan keinginan masing-masing keluarga, ada juga yang melihat dari tanggal merah supaya cutinya bisa lebih lama (apalagi long weekend, hehe).

Calon pengantin biasanya sudah mempunyai tanggal pernikahan yang mereka inginkan, tapi belajar dari pengalaman saya dan teman2 lainnya juga, biasanya orang tua yang akan ‘ketok palu’ tanggal pernikahan (dan mostly semua detail wedding preparation ini :p ). Jadi untuk capeng2 diluar sana yang sudah memimpikan tanggal unik for your wedding, saran saya jgn terlalu kekeuh sama hal itu, bisa-bisa konflik berkepanjangan (jangan sampeeee x_x). Turutin aja kata orang tua, itung-itung bakti terakhir sebelum kita membina kehidupan sendiri. 🙂

2. Count your guests!

Buat perkiraan dan batasan kira-kira berapa tamu yang akan diundang, ini penting! Start counting your friends and don’t forget your relatives also.. Jumlah undangan ini akan mempengaruhi berbagai vendor penting, mulai dari gedungnya harus cari yang kapasitasnya sesuai, kateringnya harus pesen dengan perhitungan porsi yang pas, dan yang pasti kartu undangan yang mau dibuat berapa pieces dan juga suvenir mau yang seperti apa, melihat dari jumlah undangan yang ditentukan.

Lagi2 orang tua akan menjadi pihak yang mendominasi jumlah undangan. Mungkin hal ini akan mengesalkan kita pada awalnya, karena itulah yang saya alami, karena saya berpikir, ‘ini kan pernikahan saya, kenapa tamunya malah banyakan orang2 ga dikenal sih?!’. Tapi lagi-lagi, orang tua itu, khususnya orang tua saya, yang anak perempuannya cuman saya seorang, jadi pasti ingin mengundang semua temannya untuk menghadiri acara besar anak perempuannya, karena kan kapan lagi mereka bisa ‘ngunduh mantu’ kalau istilah Jawanya, jadi sebaiknya kita mengalah pada hal ini, biarkan saja kalau orang tua kita mau mengundang teman-temannya dari Sabang sampe Merauke, dari hulu ke hilir, sok wae atuh,, Toh teman-teman kita bisa kita beritahukan tentang pernikahan kita lewat media-media sosial, ga mesti datang ke pernikahan, kan masih bisa kumpul2 setelah menikah untuk memberikan selamat 🙂

Dan kalau mengutip perkataan teman saya, Adam, tentang hal ini, dia mengungkapkan bahwa toh ketika kita yang akan menikah, modalnya sebagian besar dari orang tua (biasanya sih yaa), dan lagipula, tamu-tamu ortu kita pastinya yg udah lebih sukses dari kita secara isinya temen2 bokap nyokap, trs kalau nanti mrk kasih angpau, angpaunya buat kita juga, jadi apa salahnya kalau kita cmn nikmatin aja smua prosesnya? 😉

3. Choose your wedding theme!

Hal ini yang kadang suka di skip saat wedding preparation, contohnya saya :p. Saya cukup kelabakan ketika survei vendor, tema wedding juga jd salah satu pertanyaan favorit. Saya cmn tau saya mau ambil adat jawa nasional, tapi blm punya ancang2 warna ataupun tema unik.

Kebetulan saya sempet browsing masalah tema ini. Biasanya tema wedding itu sekitaran warna dan bunga-bungaan yang mau dipakai saja, tapi ada juga yang whole wedding nya di set dengan tema itu, contohnya ada yg temanya memakai java vintage, maka dr dekor, riasan dan busana, makanan sampai entertainmentnya pun semuanya berbau nuansa jawa tempoe doeloe. Lucu yah..

Nah, sangat oke kalau kita sudah yakin dengan tema apa yang akan ada di wedding kita, memudahkan pihak vendor untuk memberikan pendapat dan saran mereka tentang hal-hal yang berkaitan dengan tema kita.

4. Survei vendors!

Vendor-vendor pernikahan itu biasanya adalah gedung, dekorasi, perias dan busana, katering, dokumentasi, entertainment, souvenir, kartu undangan. Yang pasti sih itu, ada juga kalau wedding-nya memakai tema internasional, ada tambahan seperti wedding cake. Ada juga yang menambahkan list vendornya seperti Wedding Organizerwedding car, pre-wedding photo/video, honeymoon package dan sebagainya.

Kalau kita sudah punya tanggal dan jumlah undangan, itu jadi modal utama kita saat survei vendor, karena 2 hal tadi yang akan sering ditanyakan oleh vendor (termasuk juga tema wedding kita).

Vendor yang seringkali jadi vendor pertama yang disurvei adalah katering dan gedung. Dan biasanya dari dua vendor besar ini, sudah ada rekanan untuk vendor yang lain. Contohnya gedung, hampir setiap gedung sudah punya daftar rekanan hampir ke semua vendor lain. Jadi kita tinggal milih mau yang mana. Dan sebagian besar, kita harus memilih dari daftar rekanan tersebut, kalau memilih vendor dari luar daftar rekanan, biasanya ada chargenya. Ada juga gedung yang menetapkan sistem whole-package wedding seperti SMESCO, atau Sucofindo, jd gedung-gedung ini menawarkan harga wedding package dengan semua vendor all-in. Btw tentang SMESCO dan Sucofindo, saya sempat survei ke dua gedung ini, bisa dilihat di blog saya yang ini –> The Hall

Untuk penentuan vendor, ini sih semua masalah selera. Dan cara survei yang paling banyak ditempuh oleh para capeng dalam melihat kualitas tiap vendor adalah melalui jejaring internet (lihat pendapat orang-orang yang sudah pernah memakai jasa vendor tersebut) ataupun survei lapangan langsung. Kebetulan saya pakai gedung SMESCO waktu menikah, jadi WO-nya sudah memberikan list berserta CP tiap vendor yang menjadi rekanan. Saya tinggal telepon CP tiap vendor dan minta dikirimkan email penawaran dari mereka. Setelah itu biasanya saya browsing tentang vendor tersebut. Setelah dapat beberapa calon vendor yang qualified, baru deh saya janjian dengan pihak vendor-vendor tersebut untuk survei lapangan. Ada 2 metode yang saya gunakan dalam survei lapangan :

  1. Datang langsung ke kantor mereka. Jangan lupa janjian dengan marketingnya supaya bisa dapat presentasi yang jelas.
  2. Be a shadow guests! Hihi, ini bagian yang seru menurut saya. Saya sering banget melakukan ini dalam persiapan pernikahan saya. Tiap sabtu dan minggu saya biasanya keliling Jakarta untuk menilik performa calon-calon vendor di daftar saya. Sebelumnya saya bertanya dulu ke gedung SMESCO, kapan si vendor A isi acara di SMESCO dalam waktu dekat, kemudian saya catat tanggalnya. Kadang saya juga bertanya langsung ke vendornya, seperti Puspa Catering yang sering mengadakan test food di kantornya, saya tanya kapan jadwal test food lagi dan saya daftar untuk ikutan. Tapi jangan mengandalkan test food saja, karena rasa makanan antara test food dengan yang nanti di resepsi bisa jadi jauh berbeda, jadi ada baiknya kita ikut mencicipi makanan katering saat mereka ada event resepsi juga. Tanya juga kepada bagian marketingnya kapan mereka ada event, jam berapa, di gedung mana saja, dan cicipi langsung 🙂 Begitu juga dengan dekorasi. Saya paling ribet cari dekorasi, karena ga sreg melulu. Jadi saya selama 6 bulan persiapan pernikahan, isinya survei dekor mulu haha. Saya tipe orang yang ga puas dengan hanya melihat foto dekorasi, jadi saya harus liat for real nya dulu. Kalau ada yang seperti saya, lebih bagus survei langsung, tanya ke vendor dekor pilihan kalian, kapan mereka ada event, lalu lihat langsung deh bagaimana dekorasi mereka. Oh iya, untuk masalah shadow guests ini, namanya dateng ke nikahan orang yaa, kalau bisa sih tetap memberikan angpau ke pengantin, jangan cuman amplop isi serebuan, atau lebih parah lagi amplop kosong, tetep lho bo agak ngenes ketika bongkar angpau terus nemuin amplop kosong.. :’) Kalau emang g mau kasih angpau, mending sih, sekalian gausah ngamplopin hehe.. nggak bakalan dikejar-kejar sama penerima tamu kok. 🙂 Yahh modal 10 ribu – 20 ribu juga udah lumayan kan buat makan prasmanan gratisss.. 😉
  3. Datang ke pameran pernikahan. Ini cara ampuh kalau kita udah punya vendor yang kita mau, apalagi jadwal pameran ada di waktu dekat, wihh rejeki nomplok. Karena di pameran, biasanya vendor akan kasih diskon gede dan bonus-bonus. Saya sempat datang ke pameran pernikahan di JCC dan booking langsung souvenir dan kartu undangan. Dan dapet diskon yang lumayan banget dibanding kalau saya booking di kantor.

5. Place your order!

Segera setelah kita yakin dengan vendor yang kita mau, langsung aja booking, karena biasanya vendor-vendor besar dan terpercaya ga sembarangan ambil order. Seperti  katering, dekorasi, perias, dokumentasi, MC dan entertainment, mereka harus sesuaikan dengan jumlah orang yang sudah booking. Kalau sudah over-capacity, mereka ga akan bisa ambil order kita. Jadi buruan deh pada booking tanggal daripada gigit jari mesti survei lagi. Apalagi gedung, kalau sudah pas dengan gedung yang dipilih, gausah ba-bi-bu, gausah galau bimbang merana lagi, langsung aja DP, karena persaingan dalam mencari gedung itu udah ganas. Pagi abis tanya-tanya gedungnya, balik siangnya udah ada yang booking.. maaak, kalau udah begitu tinggal menangis dalam diam deh.. Ada juga yang udah booking dari 1 tahun, bahkan 2 tahun, dari tanggal nikah mereka.. kadang mikir jg sih, “heyyyy mau ngapain looo 2 tahun nungguin doang?” *no offense yaa, hehe*

6. Get into the details!

Setelah pilih vendor, sertakan detail yang kita mau kepada vendor. Seperti di katering: mau pesan untuk berapa porsi, menunya apa saja yang mau ada, hiasan kateringnya mau warna apa, ada ice carving atau nggak, dll. Kalau dekor: bunganya mau yang nuansa apa, melatinya banyak atau nggak, standing flowersnya model apa, atau ada request benda-benda lain atau nggak, pakai gazebo model apa, terus red carpet nya mau yang ditaburin rose petals apa nggak. Detail seperti itu sih biasanya dari pihak vendor udah lebih jago, bahkan kadang mereka yang saranin ada ini, ada itunya, tapi nggak salah kok kalau kita juga sumbang saran 🙂

Detail lain yang harus diperhatikan adalah panitia keluarga. PIC dari pihak keluarga itu juga perlu ada. Karena supaya pihak WO ataupun vendor tau siapa yang harus dihubungi saat hari H, ga mungkin kan kalau pengantin atau orang tua yang ditanya-tanya sama mereka. hehe.. Jadi kalau bisa ada ketua panitia, yang juga tau setiap detail perintilan acara kita, undang juga ketua panitia kita itu ke rapat-rapat bersama vendor. PIC (person in charge) tiap vendor juga perlu, supaya koordinasi lebih tertata. Kalau ada yang mau buku panitia pernikahan saya yang kemarin, bisa langsung kirim email aja 🙂 it’s free kok hehe.

Detail terakhir yang kadang suka keteteran adalah masalah administrasi pernikahan. Seperti penghulu, administrasi KUA, seserahan dan cincin nikah. Perintilan macem ini yang kadang baru inget pas akhir-akhir. Harus diatur tuh, siapa yang bakal anter-jemput penghulu, terus urus juga dokumen-dokumen nikah, jangan sampe mepet-mepet baru urusin. Biasanya sih bagian yang ngurus beginian itu CPP, tapi lebih baik tetep urus berdua, supaya tau aja 🙂

7. Prepare yourself!

Yap, ini mungkin jadi bagian terakhir di langkah persiapan pernikahan. Sebenernya dalam bahasan tentang vendor tadi, masih banyak yang mau dibahas, tapi kayaknya bakal jadi buku deh kalau nggak diringkas haha. Jadi insyaa Allah next time akan dibahas kali ya 🙂

Nah untuk para capeng diluar sana, yang tanggal pernikahan kalian udah di depan mata, yuk maree persiapan diri kalian sebaik mungkin. Banyak persiapan yang bisa dilakukan para capeng. Persiapan diri melalui:

  1. Persiapan diri, entah melakukan perawatan di salon secara rutin atau pribadi aja di rumah sendiri. Buat yang concern masalah kesehatan juga direkomendasikan untuk ambil pre-marital check-up. Fungsinya sih untuk mengetahui kondisi kesehatan kamu sebagai calon istri, mulai dari kesehatan rahim dan vagina, kondisi indung telur sampai ke tips-tips pernikahan dari sang dokter. Perawatan diri untuk para capeng itu penting, dan ga cuman CPW aja, tapi juga CPP. Kalian pasti ingin memberikan yang terbaik untuk pasangan kalian kan nantinya, jadi nggak ada salahnya kok untuk booking salon seharian penuh demi meng-‘amplas’ badan haha. Kalau CPW biasanya perawatannya lebih banyak dan komplit untuk tiap jengkal tubuh. Dan biasanya dicicil dari jauh-jauh hari. Kalau saya, kebetulan saya bekerja, jadi bisanya di weekend aja untuk ke salonnya. Jadi yang saya lakukan, adalah booking salon untuk full-treatment dari beberapa hari sebelumnya, atau panggil capsternya ke rumah, jadi bisa lebih leluasa. 🙂 Kalau CPP sih gausah tiap minggu juga nyalonnya, yah seengganya pijet refleksi lah 2 minggu sekali atau sebulan sekali supaya lebih rileks dan sehat. Kalau ke salon paling cukur rambut, atau bisa juga facial biar mukanya kinclongan, bisa juga sekali-sekali ambil body treatmentnya, meni-pedi biar kukunya kerawat dikit 😉
  2. Persiapan rohani, perbanyak ibadah dan makin dekatkan diri kepada Allah SWT karena menjelang hari H justru godaan makin besar, emosi juga makin mudah tersulut. Saya pernah denger, entah ayat atau hadist, bahwa setan itu akan mulai menggoda sepasang suami-istri mulai dari keduanya sah di prosesi ijab-qabul. Jadi, bisa bayangin deh cobaan-cobaan rumah tangga yang datangnya berasal dari bisikan setan. Kadang godaan itu datang di hal-hal simpel seperti kebiasaan hidup yang berbeda antara pasangan, cara ngomong yang nggak sesuai harapan, dan banyak lagi. Nah, untuk bisa menahan diri dari ledakan emosi, penting banget tuh untuk punya benteng iman yang kokoh dan tebal. Karena nggak bisa dipungkiri, namanya nikah berarti kita komit untuk hidup dengan orang yang tidak sempurna, jadi pasti akan ada gesekan dan benturan dimana-mana. Kalau kita menghadapinya dengan iman dan orientasinya akhirat, in syaa Allah deh, yang namanya sakinah, mawadah dan rohmah akan hadir di rumah kita. Yuk, belajar jadi wanita yang qurrota ‘ayun alias penyejuk hati.
  3. Persiapan mental, seperti belajar masak, bersih-bersih rumah, dan hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga lainnya. Juga belajar untuk bisa ‘betah’ dirumah, hal ini termasuk yang terlihat mudah di awal, tapi bikin stress di tengah-tengah terutama buat para wanita yang terbiasa bekerja atau di luar rumah. Belajar juga untuk bisa menghadapi setiap konflik dengan kepala dingin. Hal ini kurang lebih sama dengan persiapan rohani diatas. Ketika kita siap secara rohani, mental kita pasti akan terbangun dengan sendirinya. Pemikiran kita akan lebih dewasa dan lebih ‘matang’. Yang pasti, komunikasi harus tetap ada dan terjalin. Tapi sebagai wanita, kita juga harus pintar-pintar cari waktu dan liat-liat sikon ketika mau menyampaikan suatu permasalahan. Inilah fungsinya mempersiapkan mental. Kita persiapkan mental kita untuk bisa menyimpan ego kita dalam menghadapi masalah yang terjadi.
  4. Persiapan keuangan, walaupun uang istri nantinya jadi hak istri, nggak ada salahnya kita menabung, untuk modal awal pernikahan dan belajar mengatur uang. Karena permasalahan uang itu sensitif, hal ini bisa jadi faktor utama berantem suami-istri, jadi CPW harus siap untuk bisa jadi manajer keuangan. Harus bisa tahan godaan untuk belanja di luar budget yang ada. Salah satu trik yang saya pelajari selama menikah adalah punya dompet untuk masing-masing pos. Jadi, ada dompet untuk kebutuhan sehari-hari, dompet untuk zakat dan sedekah, dompet untuk tabungan, dompet untuk emergency things dan dompet untuk jalan-jalan. Kalau kita bisa tertib dan disiplin, in syaa Allah keuangan rumah tangga kita aman tentram sejahtera 😀

Well, semoga bisa berguna yah tips kali ini.. mohon maaf kalau kepanjangan dan ada kata2 yang kurang berkenan.. kalau ada yang mau ditanya-tanya, monggo saya terbuka dengan saran, masukan, pertanyaan dan pernyataan 😀 bisa komen di post ini (jangan lupa di checklist kotak email notificationnya biar kalau ada balasan bisa ketauan 😀 ) atau bisa langsung email di wyna.arini@gmail.com

Thank you guyyyysss

Wassalamualaikum wr wb.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s