Promil Diary part II : Journey to Conceive

Hola!

Buat yang udah pernah baca postingan mengenai My Promil Diary, pasti udah tau kalau dari tahun 2015 lalu hingga sekarang, saya dan suami masih berjuang untuk mempunyai momongan. Yep, it has been almost 3 years we’ve tried to conceive, 4 years since our marriage day.

Nah, kali ini saya mau sharing beberapa perjalanan saya dan suami dalam menapaki jalan promil ini *tsaaah bahasanye haha* Alhamdulillah, selama menjalani proses promil ini, banyak dipertemukan dengan orang-orang yang mengalami hal serupa, banyak dapet dukungan positif, cerita-cerita suksesnya promil mereka, jadinya berasa nggak sendirian dan punya harapan. Jadi punya semacam keyakinan bahwa rezeki yang satu ini bukan sesuatu yang harus ada saat ini juga, tapi semua pasangan akan punya waktu yang tepat bagi kehadiran si penyejuk hati.

Dari postingan pertama 2 tahun lalu, saya baru menjajaki fase pertama dari tahapan promil. Hasil cek HSG 2 tahun lalu, menunjukkan nggak ada masalah dengan jalur rahim saya, tidak ada sumbatan dan kedua tuba falopi juga paten (entah apa maksudnya sih hah). Intinya, secara fisik dan kualitas organ reproduksi, saya dan suami nggak ada masalah.

Lalu dr. Nel pun meresepkan Profertil kepada saya untuk diminum ketika haid datang, tepatnya dari hari ke-3 hingga ke-7. Ketika bulan depannya saya haid (sedih sih), saya minumlah si profertil itu, dosisnya masih 1×1. Kemudian pada hari ke 13-15 dari siklus haid, saya dijadwalkan untuk kontrol USG lagi dengan dr. Nel. Dari kontrol USG, terlihat bahwa sel telur yang matang ada 2, yang berarti bagus karena tidak ada masalah dengan perkembangan sel telur. Dari kontrol hari itu, saya diminta untuk mulai rutin berhubungan.

Lalu, bulan depannya tetap haid lagi.

Saya pun kembali mendatangi dr. Nel. Siklus meminum Profertil kemudian kontrol USG ini saya lakukan selama kurang lebih 4 bulan. Setelah bulan ke-3 ternyata belum ada pembuahan, dr. Nel menyarankan untuk suntik hormon Ovidrel, yaitu hormon yang membantu pelepasan sel telur. Menurut beliau, ketika sudah suntik hormon ini, biasanya selalu berhasil.

Kemudian bulan depannya saya tetap haid.

Agak nyes ketika mendapatkan diri saya haid lagi dengan teratur. Apa yang salah dengan saya? Mulai agak goyah, cengeng ya.. Padahal ujiannya belum seberapanya dibanding nikmat yang udah Allah kasih. Suami pun bantu mengingatkan dan muhasabah diri, mungkin saya masih kurang bersyukur, masih belum cukup amanah, masih banyak amalan yang harus diperbanyak, masih butuh banyak ampunan. Pernah suatu saat, ketika lagi di ruangan kerja, tiba-tiba saya break-down aja gitu, tanpa ada apa-apa, saya nangis sesenggukan di kolong meja. Capek kecewa, capek nangis, capek deg2an kalau telat datang bulan, capek bolak balik ke dokter, capek jawabin pertanyaan orang-orang, yah banyak deh. Sampai kemudian, dua orang rekan kerja saya menghampiri dengan panik begitu liat saya sesenggukan di bawah meja. Malu sih ketauan cengengnya, tapi alhamdulillah 2 orang rekan kerja saya ini juga mengalami ujian yang kurang lebih sama, jadi bisa bantu menguatkan dan kasih motivasi.

Saya pun datang lagi ke dr. Nel, dan kali ini dirujuk untuk ke androlog bernama dr. Indra G Mansur, spesialis infertilitas reproduksi. Saya juga dirujuk untuk cek darah lengkap untuk mengetahui apakah ada masalah reproduksi.

Kami pun menemui dr. Indra G. Mansur ini di RS Sayyidah di Pondok Kelapa. Mencari jadwal beliau agak susah, karena RS terdekat tempat praktek beliau ada di RS Budhi Jaya, tapi hanya ada di hari kerja, sedangkan saya dan suami hanya bisa di weekend. Akhirnya kami pun menjabani ke RSIA Sayyidah di Pondok Kelapa karena Sabtu-Minggu, beliau praktek disana.

Pertemuan pertama dengan dr. Indra, beliau langsung merujuk saya dan suami untuk tes ASA (Antibodi Antisperma). ASA ini adalah sistem imun tubuh yang khusus menyerang sperma. Menurut info, ASA baru akan muncul ketika seorang wanita sudah pernah berhubungan suami-istri, dan dia bertugas untuk melindungi tubuh si wanita terhadap sperma, karena dianggap benda asing. Namun, di kebanyakan kasus, tingkat ASA ini tidak terlalu tinggi, sehingga sperma suaminya pun masih bisa menjangkau sel telur.

Dari hasil pemeriksaan, terlihatlah bahwa tingkat ASA saya sangat tinggi. Batas normal kadar ASA bagi wanita adalah 64, sedangkan saya ada di 130.000 sekian. Yap, seratus tiga puluh ribu dari enam puluh empat. Kalau kata dr. Indra, satpam di tubuh saya galak-galak, jadinya si sperma ga bisa lewat :p. Bayangin si sperma kudu berenang menuju sel telur tapi di tengah jalan di gebukin sama 130.000 satpam. Keburu babak belur :p

Saya pun menjalani terapi untuk menurunkan kadar ASA ini, namanya PLI atau Paternal Leukocyte Immunization. Perjalanannya lumayan panjang. Awalnya saya dicek alergi, dan ketauan saya punya banyak alergi, seperti susu sapi, susu kedelai,kacang tanah, udang hingga cumi. Jadi ketika alergi kita banyak dan tergolong berat, akan membuat kadar ASA ini semakin tinggi, jadi saya harus menghindari hal-hal yang alergi diatas ( 😦 bye bye cumi dan udang). Terapi PLI nya sendiri berupa terapi suntikan, jadi saya disuntikkan dengan sel darah putih suami, tujuannya untuk mengenalkan sistem antibodi tubuh saya terhadap sistem antibodi suami. Terapi ini saya lakukan per 3-4 minggu, dan setelah 3x suntik, saya cek lagi kadar ASA nya untuk mengetahui perkembangan terapi.

Setelah suntik terapi yang ke-3, saya langsung cek ASA lagi. Dan alhamdulillah, hasilnya turun, yang tadinya ada di angka 130rb, jd turun ke 16ribu sekian. Signifikan banget, Tapi perjalanan masih panjang. Saya menjalani terapi ini dari 2016 kemarin, dan baru saja bulan lalu menyelesaikan terapi PLI yang ke-9. Udah hampir 30 minggu dari PLI pertama saya. Alhamdulillah, kadar ASA nya udah di batas normal. Udah boleh lanjut promil lagi.

Bulan lalu, saya harap-harap cemas, jadi ngga ya – jadi ngga ya.. Karena secara logika, nggak ada lagi nih yang jadi faktor penghambat. Harusnya jadi dong.. harusnya..

Tapi rencana Allah masih panjang sepertinya. Saya haid lagi, dan saya pun ke dr. Nel lagi untuk rekomendasi langkah selanjutnya. Terakhir saya kontrol di beliau adalah pada bulan Oktober 2016, dan baru kembali lagi tanggal 31 Juli 2017 kemarin. Saya kembali diresepkan profertil, berharap supaya sel telur bisa matang dan siap dibuahi.

In syaa allah, tanggal 11 besok akan kembali lagi ke dr. Nel untuk lihat perkembangannya. Dan sekarang, selain menumpahkan keresahan lewat tulisan blog, cuman bisa sujud dulu, ngadu sama Allah.

Mohon doanya ya, readers 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s